Pages

Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Mei 2012

Jalur-Jalur Menuju Bromo



ada 3 jalur utama akses menuju kawasan tengger yaitu Penanjakan pasuruan , sukapura probolinggo , dan jalur malang-lumajang

1.A Jalur landai via probolinggo

jalur ini relatif lebih mudah dijangkau oleh kendaraan atau jika mas bro ingin melakukan touring dengan santai, bahkan roda 4 atau mobil travel minibus – bus berukuran sedang masih bisa melewati jalur ini , jika mas bro dari arah jawabarat-jawa tengah setelah masuk batas kota mojokerto cari perempatan terminal, kemudian ambil jalur arah mojosari- kejapanan-porong gempol sidoarjo sampai depan pasar porong ambil kanan , cari arah persimpangan ”apolo” kemudian ambil jalur bangil-probolinggo, sebelum masuk kota probolinggo cari pertigaan tongas ( cari plakat akses bromo) atau jalan raya Tongas-sukapura meski menanjak namun landai dan banyak lurusan serta aspalt nya halus namun agak sempit, meski jalurnya tidak ekstrim namun jika anda datang dari arah barat, jarak tempuh jalur ini lebih jauh karena memutar * berbeda jika tour dari arah timur semisal bali Dll


1. B jalur tengah Via bangil-pasuruan – pasrepan

jalur ini bisa dikatakan jalur tengah atau tegak lurus arah utara dari gunung bromo. relatif landai namun diujung jalur akan bertemu percabangan dari jalur ekstrem via nongko jajar , pertama mas bro bisa mengakses via bangil maupun pasuruan kota , kemudian cari arah “Gondang wetan” dan setelah itu terdapat per tigaan akses bromo ( jalan Ranggeh-Wonokitri ) jalanan ini juga relatif landai dan halus hingga menuju Pasrepan dan Puspo , setelah melewati puspo ada cabang lagi yang ujungnya sama saja jalanan akan bertemu di sentral parkir Wonokitri meski bisa memutar via Tosari (menuju kawah lanjut *sama dengan jalur ekstrim no 3)


2 jalur ekstrem via Nongkojajar

Jalur ini merupakan jalur favorit para petualang! karena selain pemandangannya menakjubkan jalur ini dipenuhi kelokan sangat tajam dan tanjakan ekstrim , sepi pula #udah kayak the lost world aja

yang datang dari jalur selatan arah malang , maupun dari mojokerto/ surabaya , langsung saja cari pertigaan Purwodadi di jalan raya by pass Surabaya-malang (di pinggir jalan ada plakat besar “Wisata sun-rise bromo-tengger) , namun dari plakat tersebut perjalanan masih 2,5 jam lanjut langsung saja menuju kecamatan Tutur lanjut wonosari-ngadirejo -Nongkojajar di track ini tanjakannya sangat ekstra dan memperkosa kemampuan mesin hampir tanpa jeda nanjak-belok-nanjak lagi! namun terbayar dengan view yang aduhai di kanan kiri masih seperti hutan lebat, bahkan bunga Tulip maupun edelweis sudah dapat di temui (bayangkan saja berapa ketinggiannya ) lanjut pertemuan dengan jalur tengah yaitu di daerah Tosari dan sentral parkir perdesaan Villa Wonokitri .


lanjut. menuju kawah & puncak Pananjakan view terdapat sub parking lagi tepat di bibir kawah kaldera tengger, untuk mencapai puncak pananjakan (tempat hunting Sunrise terindah se Indonesia) bisa ditempuh dengan menanjak 6 km lagi , sedangkan jika mau turun ke kawah melalui jalur tebing setinggi kira2 500 m – 700 m dahulu jalanan membelah gunung & tebing ini aspal bagus, namun sekarang sudah mulai hancur dan terjal tanjakan dan down hill nya sangat ektrem , jika roda 4 memaksa turun harus dengan hardtop sewaan , namun jika dengan motor, akan ada tantangan berat yang sungguh menakjubkan disini

Sumber: https://azizyhoree.wordpress.com/2011/12/16/akhir-pekan-pada-mau-ke-honda-bikers-day-bromo-ini-nich-akses-route-nya/

Rabu, 23 Mei 2012

Wisata Anyar Mangrove dari Gunung Anyar untuk Surabaya


                          
WAM Surabaya - Di awal tahun 2010, tepatnya 1 Januari 2010 pukul 8.30 wib, Walikota Surabaya Bambang DH melepaskan balon secara simbolis sebagai launching “Wisata Anyar Mangrove” di wilayah gunung anyar. Pelepasan balon ke udara yang bertulisan “Wisata Anyar Mangrove dari Gunung Anyar untuk Surabaya” ini disaksikan pula oleh Yusak Anshori (kepala Surabaya Tourism Board), Camat Gunung Anyar Kanti Budiarti, Lurah Gunung Anyar Tambak Jailani, pakar tata kota Johan Silas dan Firman Arifin, Ketua RW VII Gunung Anyar Tambak, mewakili warganya yang menggagas acara ini.
Dalam sambutannya, Firman Arifin yang berprofesi sebagai dosen di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS ITS) ini, menyampaikan bahwa ide atau gagasan dari warganya datang secara spontanitas. Dari ide dadakan ini panitia hanya punya waktu dua pekanan untuk merealisasikannya.
“Sebelumnya tidak ada rencana ntuk mengundang walikota. Tapi begitu proposal masuk ke kelurahan dan kecamatan, respon pemerintah sangat mengapresiasi ide dari warga perumahan wisma indah dua dan tirta agung. Bahkan kecamatan mensupport kami untuk mengundang walikota. Alhamdulillah akhirnya bapak walikota bersedia hadir”, ujar Firman.
Ada beberapa masukan dari penggagas “Wisata Anyar Mangrove” agar kedepan bisa menjadi alternative wisata di Surabaya. Pertama, pengerukan dasar sungai kebong agung. Karena dengan kondisi sekarang ini, kalau kondisi sungai yang berhubungan langsung dengan laut ini sedang surut, maka perahu untuk membawa para wisatawan ke tempat wisata agak terhambat.
Kedua, pembenahan dermaga. Dermaga yang ada sekarang masih terlalu sempit dan hanya ada satu saja. Dengan bertambahkan para wisatawan, agar bisa melayani dengan baik dan cepat, mau tidak mau memang perlu dibenahi.
Ketiga, bantuan perahu untuk wisata bahari. Selama ini, kebanyakan pengunjung menggunakan perahu-perahu milik nelayan untuk mencapai area mangrove dengan kondisi perahu “seadanya”. Dengan desain dan bahan yang tepat, perahu wisata ini diharapkan wisatawan lebih bisa menikmati berbagai spesies flora dan fauna, seperti burung, monyet ekor panjang dan lainnya.
Sampai hari kedua sejak dibukanya Wisata Anyar Mangrove (WAM) yang berada sekitar 2 KM ke arah timur kampus UPN ini, bukan hanya pengunjung yang berasal dari daerah gunung anyar atau rungkut saja. “Hampir dari seluruh warga kota Surabaya sudah menikmati wisata anyar mangrove”. Demikian disampaikan oleh ketua panitia, Gramang.